Organisasi

23 Jul

Organisasi

Tak perlu membincang apa yang tidak dipunyai. Capek. Yang penting, sering saja menggagas hendak kemana menuju.
Butuh lebih dari sekedar harapan. Visi, sudah pasti. Tekad, apalagi. Yang susah itu adalah nyali. Ini jawaban kenapa visi sulit tereksekusi.
Kematangan sebuah organisasi bukan dilihat dari usia, inilah peliknya. Sebab disatu sisi, indikator produktifnya adalah karya.

Jika ada organisasi yang dari usia sudah lah tua, tapi karya masih begitu-begitu saja, mesti merujuk kita pada tayangan komersial yang agak absurd itu: Tanya Kenapa?

Bagaimana mengindikasi sebuah organisasi produktif atau sia-sia?

Sederhana. Sedikitnya, tentu dalam subjektivitas, ada 3 indikator:

1.Pertama, bagaimana performance nya. Apa yang sedang digerakkannya. Besarkah? Massifkah? Membuat perubahankah? Atau hanya sekedar rutinitas membincang wacana dengan dalih strategi, tahapan, atau apalah itu.

2.Kedua, apa legacy nya. Monumen fungsi apa yang ditinggalkan sebagai sebuah organisasi. Warisannya pada peradaban bagaimana.
Ahh, mungkin terlalu jauh. Begini saja, manfaat apa yang didapat lingkungan, masyarakat, bahkan ummat dari kehadirannya sebagai sebuah organisasi.
Masih terlalu muluk. Oke, disederhanakan lagi, sehari-hari aktivitasnya bagaimana. Apa peran aktivisnya di masyarakat. Bagaimana dia mengorganisir sebuah influence yang membawa arus perubahan besar.
Point to bold, sebagai sebuah organisasi. Bukan individu. Sebab, individu berjaya tapi organisasinya merana adalah bukti organisasi hanya batu loncatan bagi si personal.
Organisasi mesti kuat. Sistem, infrastuktur, dan orangnya. Kalau ia kuat, insya Allah akan besar. Transfer value akan lebih massif.

3.Ketiga, pertanyaan paling penting, bagaimana regenerasinya. People management nya seperti apa. Leadershipnya bagaimana. Apakah pernah membincang tentang ‘leader creates leader’.
Maka terhadap hal-hal seperti inilah para aktivis organisasi mesti selalu bertanya. Sudah sampai sejauh apa organisasinya berlari. Belum ada jawaban juga tidak apa-apa. Setidaknya ada ikhtiar untuk bertanya.

Kalau bertanya pun tak mau, berarti memang tak mampu.

id Indonesian
X